Didaerah Pantai Tanjung Lapin Dibangun 5 Proyek Menggunakan Pasir Bibir Pantai | CAKRAWALA TV
24 Juni 2024

 

SELASA 28/09/2021

Cakrawala Tv News. Com

Pantai wisata tanjung Lapin Rupat Utara Pembangunan prasarana untuk kemudahan pengunjung wisatawan terus ditingkatkan oleh pemerintah Kabupaten Bengkalis di pantai wisata Lapin, Desa Tanjung Punak di Rupat Utara, ni jelas nampak terlihat keseriusan pihak pemerintah kabupaten dalam hal terciptanya segala kemudahan yang membuat kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke pantai wisata tersebut.Untuk tahun ini (2021) ada sekitar 5 bangunan yang didirikan di pantai tersebut.

Diantaranya adalah: pengamanan pantai, semenisasi jalan wisata pantai, pembangunan tower dan mesin air lengkap dengan pompanya, semenisasi joging track pantai,dan pembangunan pendopo pantai.Dengan rata rata dana Ratusan juta rupiah, yang diambil dari APBD Kabupaten Bengkalis.

 

Berbicara masalah pembangunan tersebut segelintir masyarakat cukup kecewa dengan ulah para pemborong bangunan yang mendapatkan tender dari pekerjaan tersebut, Bagaimana tidaknya hampir semua pasir penggunaan pembangunan tersebut memakai pasir pantai yang terdapat di sepanjang pantai wisata tersebut.

 

Pantai wisata tanjung Lapin Rupat Utara.- Pembangunan prasarana untuk kemudahan pengunjung wisatawan terus ditingkatkan oleh pemerintah Kabupaten Bengkalis di pantai wisata Lapin, Desa Tanjung Punak di Rupat Utara. ni jelas nampak terlihat keseriusan pihak pemerintah kabupaten dalam hal terciptanya segala kemudahan yang membuat nyaman para wisatawan yang berkunjung ke pantai wisata tersebut.Untuk tahun ini (2021) ada sekitar 5 bangunan yang didirikan di pantai tersebut.

 

Diantaranya adalah: pengamanan pantai, semenisasi lahan jalan wisata pantai, pembangunan tower dan mesin air lengkap dengan pompanya, semenisasi joging track pantai,dan pembangunan pendopo pantai.Dengan rata rata dana Ratusan juta rupiah, yang diambil dari APBD Kabupaten Bengkalis.

 

Berbicara masalah pembangunan tersebut segelintir masyarakat cukup kecewa dengan ulah para pemborong bangunan yang mendapatkan tender dari pekerjaan tersebut.Bagaimana tidaknya hampir semua pasir penggunaan pembangunan tersebut memakai pasir pantai yang terdapat di sepanjang pantai wisata tersebut.

 

Ketika ditanya keseorang warga (pak amat) oleh awak media! menyayangkan hal tersebut. ” Seluruh pekerjaan ini seratus persen (100%)memakai pasir pantai.Apabila Malam di korek dibawah jembatan yang terdapat di pantai tersebut,dengan menggunakan gerobak sorong/angkong dan diantarkan ke tempat penampungan pasir yang terdapat di sekitar pantai tersebut sesudahnya dilangsir oleh pekerja ketempat pengadukan semen siangnya dipakai untuk membangun bangunan ini.” Ujar beliau.

 

Pihak media juga mencoba untuk mendapatkan kebenaran dari pihak pekerja yang bekerja membuat bangunan tersebut.Beliau pertamanya mengelak dengan mengatakan tidak memakai pasir pantai,tapi setelah di koreksi pekerjaan mereka oleh pihak media mereka pun mengakui memang benar para pemborong menggunakan pasir laut yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.Ketika pihak media bertanya siapa pemborong pembangunan tersebut mereka mengatakan pemborong bangunan tersebut ada dari Rupat dan dari luar Rupat.

 

Salah satu warga tempatan yang di temui pihak media juga menyatakan amat menyayangkan hal tersebut.Sambil menunjukkan salah satu bangunan Gajebo yang udah mulai bocor akibat koyak atapnya dan tiang yang terbuat dari batu banyak yang menurut beliau ini semua akibat tidak adanya kwalitas bangunan tersebut,dan penggunaan pasir pantai yang banyak kadungan air lautnya salah satu penyebab kehancuran bangunan tersebut. ” Padahal baru setahun dibangun udah mulai hancur” ujar beliau kesal.

 

Pihak media juga bertanya mengenai hal tersebut kepada salah satu kepala desa mengenai penggunaan pasir pantai tersebut dia juga amat menyayangkan hal tersebut.Karena menurut beliau itu dana APBD kabupaten beda dengan swakelola,karena dananya lebih besar. ” Kalau kita beli dari masyarakat pun itu pasirnya harus di endapkan dulu,karena tingginya kandungan air asin.Dan mengenai penggunaan pasir laut itu ,telah tertuang didalam undang undang bahwa pemerintah amat melarang hal tersebut.”.ujar beliau lagi.

 

Pihak media juga bertanya kepada masyarakat pedagang dan pekerja siapa consultants pengawas pembangunan tersebut mereka juga tidak tahu siapa pengawasnya. ” Tanya aja sama pemborong dan mandor bangunan ini pak.” Sementara pihak pemborong dan mandor pekerjaan tersebut tidak ada di lokasi pekerjaan pungkasnya…

Berbicara kepada awak media seorang warga amat menyayangkan hal tersebut. ” Seluruh pekerjaan ini seratus persen (100%)memakai pasir pantai.Apabila Malam di korek dibawah jembatan yang terdapat di pantai tersebut,dengan menggunakan gerobak sorong(angkong) dan diantarkan ke tempat penampungan pasir yang terdapat di sekitar pantai tersebut sesudahnya dilangsir oleh pekerja ketempat pengadukan semen siangnya dipakai untuk membangun bangunan ini.” Ujar beliau.

 

Pihak awak media juga mencoba untuk mendapatkan kebenaran dari pihak pekerja yang bekerja membuat bangunan tersebut.Beliau pertamanya mengelak dengan mengatakan tidak memakai pasir pantai,tapi setelah di koreksi pekerjaan mereka oleh pihak media mereka pun mengakui memang benar para pemborong menggunakan pasir laut yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.Ketika pihak media bertanya siapa pemborong pembangunan tersebut?

Para pekerja mengatakan pemborong bangunan tersebut ada dari Rupat dan dari luar Rupat.

 

Salah satu warga tempatan yang di temui pihak Awak media juga menyatakan amat menyayangkan hal tersebut, Sambil menunjukkan salah satu bangunan Gajebo yang udah mulai bocor akibat koyak atapnya dan tiang yang terbuat dari batu banyak yang menurut beliau ini semua akibat tidak adanya kualitas bangunan tersebut, dan penggunaan pasir pantai yang banyak kandungan air lautnya salah satu penyebab mulai hancurnya bangunan tersebut. ” Padahal baru setahun dibangun sudah mulai hancur” ujar beliau kesal.

 

Pihak awak media juga bertanya mengenai hal tersebut kepada salah satu kepala desa mengenai penggunaan pasir pantai tersebut dia juga amat menyayangkan hal tersebut.Karena menurut beliau itu dana APBD kabupaten beda dengan swakelola, karena dananya lebih besar. ” Kalau kita beli dari masyarakat pun itu pasirnya harus di endapkan dulu,karena tingginya kandungan air asin.

 

Dan mengenai penggunaan pasir laut itu, telah tertuang didalam undang-undang bahwa pemerintah amat melarang hal tersebut ”ujar beliau lagi”.

 

Awak media bertanya kepada salah satu pedagang dan pekerja siapa consultants dan pengawas pembangunan tersebut? mereka juga tidak tahu siapa pengawasnya. ” Tanya aja sama pemborong dan mandor bangunan ini pak.” Sementara pihak pemborong dan mandor pekerjaan tersebut tidak ada di lokasi pekerjaan (Raden Sukma Tim).

 

Penulis : Amirudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *