Jakarta.www.Cakrawalatv.com- Ikatan Aktivis 98 (IKA 98) menilai pemerintahan saat ini telah gagal mengembalikan kepercayaan rakyat sejak kerusuhan Agustus 2025 sampai hari ini November 2026. Yang terjadi bukan perbaikan, tapi pengulangan masalah yang sama dengan wajah baru.
*1. AGUSTUS 2025 — RAKYAT MELEDAK*
*25 Agustus 2025:* Ribuan mahasiswa, buruh, ojol turun ke DPR menolak tunjangan DPR Rp 50 juta per bulan di tengah PHK massal dan kenaikan harga pangan dan pendidikan. Aksi dibalas gas air mata dan water cannon. 351 orang ditangkap, 196 diantaranya anak.
*28 Agustus 2025:* Pengemudi ojol Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis Brimob. Kematian ini memicu gelombang amarah nasional.
*29-31 Agustus 2025:* Kerusuhan meluas ke Makassar, Surabaya, Bandung, Solo, Yogyakarta. Gedung DPRD dibakar, fasilitas publik dirusak. Tercatat ribuan ditangkap dan korban jiwa. Pemerintah kemudian mengumumkan pemotongan tunjangan DPR, 5 anggota DPR disuspensi, reshuffle kabinet termasuk pergantian Menkeu Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, dan janji pembentukan Komisi Reformasi Polri.
*Penilaian IKA 98:* Janji reformasi Polri tidak pernah tuntas. Komisi hanya jadi wacana. Rakyat yang ditangkap banyak yang tidak jelas nasibnya.
*2. SEPTEMBER 2025 – OKTOBER 2026 — MASALAH BERULANG*
*September 2025 – Oktober 2026:* Krisis kepercayaan berlanjut. PHK, kenaikan pajak, sengketa lahan, karhutla di Sumatera-Kalimantan, dan kasus fasilitas mewah di Lapas Cibinong yang ditemukan Ombudsman September 2026 menjadi bukti hukum tajam ke bawah tumpul ke atas.
*20 Oktober 2026:* Pemerintahan Prabowo-Gibran genap 2 tahun. IKA 98 menilai evaluasi total yang dijanjikan tidak terjadi. Reshuffle hanya ganti orang, bukan ganti sistem.
*19-21 Oktober 2026:* Presiden menggelar rapat terbatas Karhutla di Istana. Karhutla meluas di Kalimantan Tengah, Sumsel, Jambi, Kalbar, Riau. Hutan terus terbakar sementara izin perusahaan perusak tidak pernah dicabut tuntas.
*Penilaian IKA 98:
Negara sibuk memadamkan api di hutan, tapi tidak pernah memadamkan api kemarahan rakyat.
*3. 30 OKTOBER – 4 NOVEMBER 2026 — PUNCAK 2 MATAHARI*
*30 Oktober 2026:* Seorang petugas melaporkan dugaan penyadapan ilegal, akses ilegal, dan penghapusan data elektronik. Laporan ini menjadi dasar penyidikan.
*3 November 2026:* Bareskrim mengumumkan 3 tersangka dugaan penyadapan ilegal periode 2025-2026: mantan Kapolri Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso. Mereka diduga memasukkan nomor Presiden, pejabat negara, tokoh politik, media, ormas, LSM, pengusaha ke sistem LIMS tanpa prosedur Perkap No. 5 Tahun 2010, dan diduga menghapus file hasil sadapan pada Oktober 2026. Ketiganya ditahan di Rutan Mabes Polri.
*4 November 2026:* Presiden Prabowo menandatangani Keppres pemberhentian Listyo Sigit sebagai Kepala Staf Kepresidenan, dan menunjuk Letjen TNI Ariyo Windutomo sebagai Plt KSP.
*Penilaian IKA 98:* Ini bukti paling telanjang: Indonesia punya 2 Matahari. Satu matahari di Istana yang resmi, satu matahari bayangan yang mengintai bahkan Presidennya sendiri. Status ketiganya masih tersangka, asas praduga tak bersalah harus dihormati, tapi penyidikan tidak boleh berhenti di 3 nama.
*APA YANG HARUS DILAKUKAN PRESIDEN PRABOWO*
*Agar Rakyat Bisa Mengatakan: Beliau Bapak Bangsa*
Rakyat Indonesia tidak butuh presiden yang sempurna. Rakyat hanya butuh presiden yang *terasa hadir sebagai bapak.*
Bapak itu bukan yang ditakuti. Bapak itu yang dipercaya, yang melindungi, yang adil ke semua anaknya.
*1. BERANI JADI SATU MATAHARI*
Hari ini rakyat bingung, karena merasa ada 2 matahari.
Agar jadi Bapak Bangsa, Presiden harus berani berkata:
_“Mulai hari ini, tidak ada lagi kekuasaan bayangan. Yang berdaulat hanya konstitusi dan rakyat.”_
Bersihkan lingkaran istana dari orang-orang yang loyal ke kelompok, bukan ke negara. Copot yang bermain dua kaki. Satu komando, satu arah.
Bapak tidak membiarkan anaknya diadu domba oleh orang lain di rumahnya
*2. BICARA LANGSUNG KE RAKYAT, BUKAN KE KAMERA*
Rakyat rindu presiden yang datang, mendengar, dan menjawab.
Bukan pidato yang dibacakan staf. Tapi tatap muka dengan korban kerusuhan Agustus 2025, dengan keluarga Affan Kurniawan, dengan buruh yang di-PHK, dengan petani yang tanahnya dirampas, dengan mahasiswa yang ditangkap karena bersuara.
Bapak itu datang saat anaknya menangis, bukan saat anaknya memuji.
*3. HUKUM TAJAM KE ATAS, BUKAN KE BAWAH*
Kalau koruptor besar, jenderal yang salah, pengusaha yang merusak hutan, bisa diproses tanpa pandang bulu — rakyat akan langsung berkata: ini Bapak Bangsa.
Tapi kalau yang diproses hanya rakyat kecil, sementara yang besar dilindungi — rakyat tidak akan pernah percaya.
Tuntaskan kasus penyadapan ilegal sampai akar. Sahkan UU Perampasan Aset. Sita harta koruptor untuk rakyat.
*4. HADIRKAN EKONOMI YANG MENGENYANGKAN RAKYAT*
Bapak Bangsa tidak membiarkan anaknya lapar di negeri yang kaya.
Jalankan Pasal 33 UUD 1945 dengan sungguh-sungguh: bumi, air, dan kekayaan alam untuk rakyat, bukan untuk oligarki.
Turunkan beban rakyat: pangan murah, pendidikan murah, kesehatan gratis, lapangan kerja layak. Cabut izin perusahaan yang merusak hutan. Hutan itu rahim kehidupan, bukan ladang perampokan.
*5. JANGAN BALAS KRITIK DENGAN KEKERASAN*
Bapak tidak memukul anaknya karena anaknya mengkritik.
Hentikan represi. Hentikan buzzer yang mengadu domba. Hentikan label provokator untuk rakyat yang bersuara. Buka ruang dialog. Jadikan kritik sebagai cermin, bukan musuh.
*6. TUNTASKAN LUKA AGUSTUS 2025*
Jangan biarkan luka itu membusuk.
Usut tuntas semua korban. Beri keadilan dan pemulihan. Bebaskan rakyat yang hanya menyuarakan aspirasi. Jadikan Agustus 2025 sebagai yang terakhir, bukan awal dari kerusuhan berulang.
*KALAU PRESIDEN MELAKUKAN INI, RAKYAT AKAN BERKATA SENDIRI:*
_“Beliau bukan sekadar presiden. Beliau Bapak Bangsa kami.”_
Karena gelar Bapak Bangsa tidak bisa diminta, tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksakan dengan baliho.
Gelar itu *diberikan rakyat* kepada pemimpin yang berani, jujur, adil, dan berpihak.
Dan IKA 98 masih menunggu — dengan harapan, bukan kebencian — agar Presiden Prabowo mengambil jalan itu.
Dahulu 1945 kita punya Sukarno, Bung Hatta, Sutan Sahrir dan seluruh pahlawan nasional, dahulu 1998, kita punya Abdurrahman wahid, Megawati, Amien rais, Sultan Hamengkubowono dan seluruh tokoh nasional yang mendampingi dan mengawal reformasi, Hari ini kemana semua nya , presiden , pemerintah, para dewan yang terhormat , petinggi partai, pemerintah pusat dan daerah, tokoh nasional, pemuka agama dsb nya
semua hanya mementingkan golongan dan diri sendiri, semua sibuk tampil di tv dan media, saling menghujat dan saling memuji , kami rakyat indinesia hanya menjadi penonton.
kami rindu bapak bangsa yang berkorban untuk rakyatnya
Demikian yang diungkapkan ketua umum ikatan 98* Bony Ibrohim* , dan Sekjen * Rhuqby ADeana , Di sekretariat IKA 98 dijalan pisangan baru utara no 7
_Reformasi Dituntaskan, Bukan Dilupakan._
_Indonesia Mencari Bapak Bangsa._
Hormat Kami, IKA 98*
