CAKRALAVTV.COM, JAKARTA — Ikatan Aktivis 98 (IKA 98) melayangkan kritik tajam terhadap jalannya pemerintahan saat ini. Memasuki 15 bulan pasca-kerusuhan nasional Agustus 2025 hingga November 2026, IKA 98 menilai pemerintah gagal menghadirkan figur “Bapak Bangsa” yang mampu merajut kembali kepercayaan rakyat.
Pernyataan keras ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum IKA 98, Bony Ibrohim, didampingi Sekretaris Jenderal Rhuqby Adeana di Sekretariat IKA 98, Jalan Pisangan Baru Utara No. 7, Jakarta. Dalam rilis resminya, IKA 98 menyoroti rentetan krisis mulai dari polemik tunjangan legislatif, gelombang PHK, karhutla, hingga kasus dugaan penyadapan ilegal di lingkaran kekuasaan yang memunculkan fenomena “dua matahari”.
1. Refleksi Kerusuhan Agustus 2025: Luka yang Belum Tuntas
IKA 98 mengingatkan kembali memori kelam akhir Agustus 2025, di mana ribuan elemen masyarakat mulai dari mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online turun ke jalan menolak tunjangan DPR senilai Rp 50 juta per bulan di tengah himpitan ekonomi dan PHK massal.
Aksi protes tersebut berujung ricuh dan penegakan hukum yang represif, termasuk insiden tragis yang menewaskan pengemudi ojol Affan Kurniawan akibat dilindas kendaraan taktis, serta jatuhnya korban jiwa dan ribuan penangkapan di berbagai kota besar seperti Makassar, Surabaya, Bandung, hingga Yogyakarta.
Meskipun saat itu pemerintah merespons dengan memotong tunjangan DPR, melakukan reshuffle kabinet, hingga mengganti posisi Menteri Keuangan, IKA 98 menilai janji reformasi institusi penegak hukum dan penyelesaian nasib korban tidak pernah tuntas secara transparan.
2. Krisis Berulang dan Polemik “Dua Matahari”
Memasuki September 2025 hingga Oktober 2026, situasi dinilai tidak kunjung membaik. Berbagai persoalan mulai dari kenaikan pajak, sengketa lahan, karhutla berkepanjangan di Sumatera dan Kalimantan, hingga ketimpangan hukum (tajam ke bawah tumpul ke atas) terus menghiasi pemberitaan.
Puncaknya terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2026. Bareskrim Polri resmi menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan penyadapan, akses ilegal, dan penghapusan data elektronik pada sistem LIMS (Layanan Informasi dan Media Sosial) periode 2025–2026, yang melibatkan mantan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo bersama dua perwira tinggi lainnya.
Bagi IKA 98, peristiwa ini menjadi bukti paling telanjang atas fenomena “dua matahari” di tubuh kekuasaan—di mana ada pusat kekuasaan resmi di Istana, namun di sisi lain terdapat kekuatan bayangan yang bahkan mengintai kepala negara sendiri.
3. Seruan IKA 98: Menanti Hadirnya “Bapak Bangsa”
Di tengah krisis multidimensional ini, IKA 98 menilai rakyat Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, melainkan figur “Bapak Bangsa” yang kehadirannya dirasakan sebagai pelindung yang adil bagi seluruh rakyatnya.
Melalui Ketum Bony Ibrohim dan Sekjen Rhuqby Adeana, IKA 98 mendesak Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret:
-
Berani Menjadi Satu Matahari: Membersihkan lingkaran Istana dari kepentingan kelompok dan kekuasaan bayangan, serta menegakkan satu komando konstitusi.
-
Dialog Terbuka dengan Rakyat: Turun langsung mendengarkan suara korban kerusuhan, buruh yang ter-PHK, petani, dan mahasiswa, bukan sekadar menerima laporan dari meja kerja.
-
Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Menuntaskan kasus besar seperti skandal penyadapan hingga akar, serta mengesahkan UU Perampasan Aset.
-
Pemulihan Ekonomi Rakyat: Menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945 secara murni untuk kepentingan rakyat, penyediaan pangan murah, pendidikan, serta kesehatan yang layak.
-
Hentikan Represi: Menjadikan kritik sebagai cermin evaluasi, bukan musuh yang harus dibalas dengan kekerasan atau pengerahan buzzer.
-
Tuntaskan Luka Agustus 2025: Memberikan keadilan, rehabilitasi, dan pemulihan bagi seluruh korban insiden tahun lalu agar sejarah kelam tidak berulang.
“Dahulu tahun 1945 kita punya Bung Karno, Bung Hatta, dan para founding fathers. Tahun 1998 kita punya Gus Dur, Megawati, Amien Rais, dan para tokoh reformasi yang mengawal bangsa. Hari ini, ketika rakyat hanya menjadi penonton di tengah elite yang sibuk mementingkan golongan sendiri, kami rindu sosok Bapak Bangsa yang benar-benar berkorban untuk rakyatnya,” tegas IKA 98 dalam penutup rilisnya.
Reformasi Dituntaskan, Bukan Dilupakan. Indonesia Mencari Bapak Bangsa.
Hormat Kami,IKATAN AKTIVIS 98 (IKA 98)

